Jurnal Monolog

Published: Friday, 21 May 2021

Tugas Modul 3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual

Via Jubaidah CGP kab. Sanggau Angkatan 1

 Tut Wuri HandayaniApa rencana ke depan dalam menjalani pengambilan  keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana Anda bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan Anda? Siapa yang akan membantu atau mendampingi Anda?

Setelah melalui perjalanan panjang di Program Pendidikan Guru Penggerak ini, secara pribadi tentukan akan banyak  Rencana kedepan yang akan saya lakukan setelah mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak ini, sebab selama menjalani masa pendidikan guru pengerakbanyak sekali ilmu yang saya dapati, dengan mengikuti program ini saya baru menyadari bahwa selama ini saya bukanlah seorang guru yang sebenar, banyak  hal yang saya angap benar dan harus di terapkan kepada siswa, ternyata setelah saya mengikuti pendidikan, hal-hal tersebut ternyata sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan terhadap siswa dalam situasi sekarang ini, karena ilmu ternyata mengalami banyak perkembangan yang sangat cepat, jika kita sebagai seorang pendidik,  tidak mengikuti perubahan tersebut maka akan tergerus oleh kemajuan zaman.

Kemajuan zaman era saat ini memasuki era revolusi digital industri 4.0, dan ini menimbulkan tidak sedikit permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidakJurnal Monolog lepas dari dilema etika maupun bujukan moral, begitu juga dengan dunia pendidikan berbagai macam permasalahan atau dilema etika pasti akan kita temui, dan dalam hal ini, kita dituntut harus bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan sehingga tidak merugikan pihak manapun, oleh karena itu saat pengambilan sebuah keputusan kita di hadapkan dengan dua macam dilema yang selalu seiring seirama selalu menemani kehidupan social kiata yakni  dilema etika dan bujukan moral, sedangkan dilema etika itu sendiri adalah Benar vs Benar, dan bujukan moral merupakan Benar vs Salah, dimana setiap kasus atau permasalahan itu memerlukan kreativitas jitu untuk menghadapinya supaya tidak menimbulkan dampak negatif bagi siapa saja yang terimbas dan terukur karena tindakan pada kasus tersebut memerlukan pengambilan keputusan yang tepat. Pendidik  atau guru merupakan tenaga profesional yang tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi, serta dengan harapan mampu memecahkan masalah dengan bijaksana dan tepat sasaran, profesionalisme guru tersebut tertuang dalam Pasal 1 (1) Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sikap pengambilan keputusan sebagai Guru tentukan saya akan melakukan pengimbasan atau penerapan imu-ilmu yang telah saya dapati dengan hati yang legowo dan juga penuh kesabaran ekstra, baik itu kepada rekan sejawat, murid dan orang tua siwa maupun kolega lainnya, karena kita menyadari menyebarkan kebaikan kepada orang lain tidak semudah membalikan telapak tangan, semuanya perlu proses dan usaha secara terus-menerus. Apabila suatu kasus atau permasalahan tersebut merupakan dilema etika, maka kita perlu mengenal terlebih dahulu apa saja paradigma mengenai dilema etika itu, dilema etika di kategorikan menjadi empat paradigma antara lain:

  1. Individu vs Masyarakat, yakni adanya pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar dimana individu ini juga menjadi bagiannya;
  2. Kebenaran vs Kesetian yakni kejujuran dan kesetian sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika;
  3. Rasa keadian vs Rasa kasihan, yakni ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya; dan
  4. Jangka Panjang vs Jangka Pendek yakni paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati, kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

(Materi LMSModul 3.1)

Namun untuk mengatasi permasalahan ini maka dalam pengambilan keputusan harus melihat adanya tiga prinsip pokok pengambilan sebuah keputusan yakni :

  1. Berpikir berbasis hasil akhir ( End-Based Thinking)

Fokus untuk mencapai kebaikan terbesar untuk kepentingan orang terbanyak, ultitarianism yaitu mengerjakan apa yang dapat menghasilan terbesar untuk jumlah orang terbanyak prinsip moral berpatokan pada instusi bukan pada kepentingan individu.

  1. Berpikir berbasis peraturan (Rule –Based Thinking)

Bukan berpusat pada konsekuensi atau hasil akhir tetapi berpusat pada apa tugas atau kewajiban yang kita lakukan, seseorang akan bertindak sesuai peraturan yang berlaku dan berharap orang lain mengikuti sesuai dirinya.

  1. Berbasis Rasa Peduli (Care Based Thinking)

Dalam budaya etika memberikan batasan-batasan pada tindakan kita, mendukung agar diri kita memikirkan kepentingan orang lain, banyak melibatkan empati seseorang terhadap orang lain.

Ketiga prinsip diatas dapat digunakan saat memetakan suatu kasus atau permasalahan yang sedang terjadi, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisir akan terjadinya kesalahan-kesalahan  yang akan timbul, Selain prinsip dan paradigma yang menjadi hal penting dalam pengambilan sebuah keputusan  terdapat juga bererapa langkah penting yang mesti harus dilakukan dalam melakukan eksekusi sebuah keputusan yang tepat, yaitu yang dikenal dengan

Sembilan (9)  langkah pengambilan keputusan  antar lain :

  • Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi ini;
  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini;
  • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini;
  • Pengujian benar atau salah melalui, Uji legal, Uji Regulasi, Standar Profesional, Uji intuisi, Uji Halaman depan koran, Uji Panutan atau Idola
  • Pengujian paradigma benar lawan benar;
  • Melakukan Prinsip Regulasi;
  • Investigasi Opsi Trilema;
  • Buat Keputusan; dan
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Sebagai seorang pendidik untuk menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika, tentunya yang akan saya lakukan sebagai sorang calon guru penggerak yang baik, semestinya harus  menerapkan pengetahuan yang telah saya dapati dari program pendidikan guru penggerak ini, kepada peserta didik  maupun rekan guru sejawat dengan memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip Pengambilan Keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan,

Pembahasan yang dipelajari dalam modul 3.1 ini, menjadi modal dalam pengambilan keputusan final dari sebuah keputusan, sebagai calon guru penggerak, saya akan melakukan pengukuran terhadap pengambilan keputusan tersebut dengan pengujian pengambilan keputusan, yakni uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan dan pengujian panutan atau idola, semua ini tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal jika saya hanya memutuskannya sendiri saja, oleh karena itu dalam hal ini saya akan meminta bantuan kepada Kepala Sekolah, Rekan Guru Sejawat, Murid, Orang Tua Murid dan Masyarakat Sekitar/ Pemerhati Pendidikan, untuk dapat membantu saya.

Bagaimana Anda akan menerapkan pengambilan keputusan seperti ini pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

Ada pepatah bijak mengatakan “ilmu yang tidak di amalkan bagaikan pohon yang tiada berbuah”, tidak akan ada manfaatnya bagi orang lain, ilmu yang tidak diamalkan hanya bisa menerangi dirinya sendiri namun tidak bisa menerangi orang-orang di sekitarnya, dalam agama juga sudah di jelaskan “bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberi manfaat kepada orang lain”, dari pernyataan diatas menjadi inspirasi saya, setelah melewati perjalanan panjang dalam program pendidikan Guru Penggerak ini, yang kini sudah memasuki modul akhir yakni modul 3, tidak sedikit ilmu yang saya ambil dan sangat bermanfaat bagi saya sebagai seorang pendidik, yang awal mulanya dalam proses mendidik, saya sekedar menjalankan profesi saya sebagi guru dan mengesampingkan keterlibatan murid dalam mengelola pembelajaran secara mandiri, murid hanya akan mengikuti apa yang disampaikan guru, tanpa bisa mengekspresikan potensi dalam dirinya secara maksimal, dengan alasan takut salah, takut dimarah guru.

hasil proses mempelajari beberapa modul, khususnya modul 3 ini, saya lebih memahami esensi dari modul ini, bahwa dalam pengambilan sebuah keputusan, harus memperhatikan beberapa langkah yang tepat. Oleh sebab itu dengan pemahaman ini, sebagai makluk sosial kita dituntut untuk selalu bersosialisi dengan orang lain, karena pada dasarnya kita tidak akan mampu hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain disekitar kita, Manusia di tuntut untuk saling berbagi satu dengan orang lain, Maka saya mengambil tindakan Untuk menerapkan ilmu yang telah saya dapat, jika dengan rekan sejawat penerapannya  dengan melalui obrolan santai saat jam istirahat, dengan diskusi bersama saat rapat rutin Dewan Guru atau saya menuangkan ide dalam sebuah media tertulis maupun video seperti  contoh praktik pemecahan dilema etika dan kemudian hasilnya akan saya bagikan melalui jejaring sosial pada grup Whatsapp sekolah, untuk penerapan terhadap murid, saya akan menerapkannya saat pembelajaran secara langsung di kelas atau diluar jam pelajaran sebagai pemimpin pembelajaran, kita dituntun untuk mampu melaksanakan prinsip pembelajaran yang telah lama dicanangkan oleh bapak pendidikan kita yakni bapak Ki Hajar Dewantara untuk dapat memerdekan murid dalam belajar sehingga murid dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya secara bermakna, akan tetapi terhadap orang tua siswa saya akan  menerapkankannya dengan malalui obrolan santai, saat orang tua mengantar anaknya ke Sekolah.

Proses pendidikan Calon Guru penggerak dalam modul 3.1, berdampak pada diri saya untuk melakukan perubahan sikap setiap menghadapi pengambilan keputusan, perubahan ini terinspirasi dari arahan dan pengalaman yang dibagikan oleh Instruktur Bapak Sigit Kurniawan, pada kegiatan elaborasi pemahaman pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dilaksanakan Sabtu 10 April 2021, setelah kegiatan tersebut hingga saat ini saya telah menerapkan pengambilan keputusan berdasarkan 4 padigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan, baik saat pembelajaran maupun dengan rekan guru sejawat ataupun kolega, kemudian pelaksanaan program ini akan selalu saya refleksikan kembali, baik itu terhadap rekan sejawat, murid serta orang tua siswa.

Semoga Jurnal Monolog dari Saya, dapat memberi inspirasi kepada para calon Guru Penggerak maupun Para Guru di Indonesia

Salam Bahagia

saya

Membentuk karakter melalui proses belajar, proses belajar membentuk mindset, belajar dan belajar, tidak ada kegagalan yang timbul akibat  belajar, tetap belajar dari orang yang telah sukses.